kursor berjalan

Minggu, 04 April 2021

Momen Bersama


Ketika waktu terasa berjalan sangat cepat, maka selipkan momen2 kecil di dalamnya, agar lelak kita bisa menikmati kenangan2 indah itu bersama....

Kita tidak bisa membuat waktu menjadi cepat atau lambat, namun kita bisa memilih untuk selalu memanfaatkannya menjadi kenangan-kenangan indah yang akan di kenang bersama di kemudian hari.

Hari ini, kenangan kecil ini akan kita rindukan suatu saat nanti.
Jalan-jalan sore tapa rencana, hanya bermodal sendal jepit dan Hp, namun... kita bisa membuat si kecil bahagia.
Ya, mungkin hal kecil yang kita lalui dengan si kecil tidaklah banyak, namun dari hal2 kecil itulah kita berharap hatinya akan terisi kegembiraan.

Semoga... kamu mengingat kenangan2 indah ini nak...

We love you kk & dd 🥰

#Kenangan #CeritaKecil #Momen #TantanganMenulis30Hari #HariKe-5

Sabtu, 03 April 2021

KOSONG


Sebenarnya nggak tau mau posting apa.
Rasanya tu kosong.....
Di saat tidak bisa menjadi sesuatu yang berarti.
Di saat waktu berlalu begitu saja.
Di saat tidak bisa mengendalikan diri.
Di saat semuanya ikut tak terkendali.
Rasanya itu.... KOSONG

#TantanganMenulis30Hari #HariKe-4

Jumat, 02 April 2021

Tips Memperbanyak Produksi ASI (Tanpa Minum Booster ASI)


Assalamu'laikum moms...
Para pejuang ASI mana nih suaranya.... 🤚
Wah... memang dunia per-emak2an tuh nggak jauh-jauh dari ASI, ASIP, menu 4 bintang, dan GTM ya moms...

Nah... kali ini, aku mau share tentang tips2 memperbanyak ASI tanpa harus minum booster ASI loh.... 😁

Sebenarnya kalau DBF, ASI kita tu cukup untuk si kecil. Nah.. yang jadi masalah adalah ketika kita harus menyiapkan ASIP (Air Susu Ibu Perah), karena kerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.
 
Untuk para moms yang bekerja di luar, tentu ASIP sangatlah penting karena dengan ASIP, moms tetap bisa memberikan si kecil ASI eksklusif, walaupun kandungannya mungkin tidak sama dengan ketika DBF (direct breastfeeding/menyusu langsung). Tapi ini lebih baik dibandingkan susu formula.
Oke, berikut merupakan tips-tips memperbanyak ASI:

1. Perbanyak konsumsi protein
Hal yang perlu dilakukan untuk memperbanyak ASI adalah dengan menjaga asupan makan kita, dan protein sangat penting untuk menunjang produktifitas ASI. 

2. Tidur yang cukup
Tidur yang cukup juga merupakan salah satu hal yang dapat meningkatkan produksi ASI. Hal ini nerkaitan dengan kondisi tubuh kita. Jika kondisi tubuh kita fit, maka kita akan punya banyak waktu di keesokan harinya, dan dapat terhindar dari stress akibat kelelahan fisik.

3. Banyak minum air putih
ASI itu salah satu cairan tubuh, jadi dengan menambah cairan yaitu dengan mengkonsumsi air putih, maka tubuh akan memproduksinya dengan baik.

4. Tidak stress
Nah.. stress merupakan salah satu yang dapat menurunkan produksi ASI. So, jika ingin ASI yang berlimpah, maka hindari hal-hal yang dapat memicu timbulnya stress.

5. Massage PD
Awal-awal keluarnya ASI itu ditandai dengan bengkaknya payudara. Di saat itulah perlu massage PD. Hal ini agar melancarkan jalannya ASI keluar dari PD.

6. Sering pumping PD
Pumping/memerah ASI juga merupakan salah satu yang dapat memperbanyak ASI. Hal ini berkaitan dengan cara kerja ASI.
Semakin sering kita perah, maka "mesin" yang memproduksi ASI akan memberikan sinyal bahwa ASI diperlukan, sehingga tubuh akan terbiasa memproduksi ASI lebih sering.

7. Percaya kalau ASI kita banyak
Point terakhir adalah kita percaya bahwa ASI kita banyak. Ini juga termasuk doa dan sugesti ke diri sendiri.

Oke moms, itu merupakan beberapa tips yang dapat memperbanyak ASI tanpa harus minum booster ASI. Beberapa hal tersebut merupakan pengalaman ku selama menyusui.

Semoga bermanfaat...

#MemperbanyakASI #ASIEksklusif #TipsMemperbanyakASI #CeritaPribadi #CatatanKecil #BerbagiCerita #TantanganMenulis30Hari #HariKe3

Kamis, 01 April 2021

Ibu Idealis Vs Ibu Bahagia


Assalamu'laikum moms...

Kali ini aku lagi kepikiran tentang kehidupan seorang perempuan setelah punya anak.
Seperti di judulnya, "Ibu idealis apa ibu yang bahagia" .... hmm 🤔

Jujur, sebelum nikah dan punya anak, aku termasuk tipe yang idealis. Memandang segala sesuatu dengan sudut pandangku secara idealis. Namun, seiring berjalannya waktu dan banyak hal yang terjadi dalam hidupku, aku mulai banyak belajar tentang kehidupan.

Ternyata kehidupan yang sebenarnya terjadi ketika kita sudah menikah.
Menikah itu nggak sesederhana apa yang kita bayangkan, tapi juga nggak serumit kayak di sinetron2 😄

Menjalani kehidupan pernikahan itu seperti menjalani beberapa peran, dan semuanya itu merupakan peran penting. Peran sebagai seorang istri, ibu, menantu, dan peran sebagai seorang anak. Dari beberapa hal ini, akan selaras jika memiliki pemikiran yang sama. Namun, tidak menutup kemungkinan perbedaan-perbedaan itu terjadi.

Nah... sebenarnya ibu yang sempurna itu seperti apa sih? Apa seorang ibu yang idealis merupakan ibu yang sempurna buat anak-anaknya? Ataukah ibu yang sempurna itu ibu yang mampu memberikan segala sesuatu untuk anaknya?

Duh... pemikiranku sebelum nikah adalah ibu yang sempurna adalah ibu yang selalu bersama anak-anaknya, ibu yang selalu ada untuk anak-anaknya, ibu yang full di rumah, ibu yang selalu masak untuk keluarga, dan ibu yang punya wawasan luas. Itu pemikiranku sebelum jadi seorang ibu. Namun, saat ini aku rasa pemikiran seperti itu merupakan pemikiran orang yang idealis, dan.. realitanya nggak ada ibu yang sempurna, yang ada adalah ibu yang mau melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya. Karena setiap ibu punya caranya masing-masing untuk membahagiakan anak-anaknya.

Setiap ibu punya pilihannya masing-masing.
Ada ibu yang memilih full di rumah tapi tetap dibantu ART, ada ibu yang bekerja dan dibantu ART, ada ibu yang memilih mengerjakan semua hal, mulai dari urusan rumah, dapur, suami, dan anak2, dan ada juga ibu yang full di kerjaan. Semua itu memiliki konsekuensinya masing-masing. Tanpa harus dikomentari ini dan itu, seorang ibu sudah memilih hal yang paling membuatnya selalu bimbang.

Namun, satu hal yang pasti, seorang ibu mengutamakan kebutuhan anak-anaknya dan juga suaminya dibandingkan dirinya sendiri.
So, kira-kira, ibu yang idealis itu baik nggak buat anak-anak?
Emm....
Menurutku, dari beberapa hal yang sudah aku alami, yang paling dibutuhkan untuk anak-anak itu adalah IBU YANG BAHAGIA 😊
-Bahagia terhadap perannya sebagai seorang ibu.
-Bahagia saat bermain bersama (tanpa beban).
-Bahagia saat menghabiskan waktu bersama anak-anaknya.
-Bahagia ketika bekerja karena ada perasaan2 rindu, dan
-Bahagia atas segala hal yang ada pada anak-anaknya. 

Dari perasaan Bahagia itu, maka akan tumbuh jiwa yang kuat dalam diri seorang ibu. 
Dari perasaan Bahagia itu, akan melahirkan anak-anak yang penuh dengan limpahan kasih sayang.
Dari perasaan Bahagia itu, tangki cinta anak dapat terpenuhi, dan
Dari perasaan Bahagianya seorang ibu, maka akan tercipta fondasi keluarga yang kokoh.

So, perasaan BAHAGIA nya seorang ibu sangat dibutuhkan dalam mendidik anak-anaknya. Bukan hanya sekedar idealistis, tapi psikis ibu jauh lebih penting dari pada itu, karena setiap ibu punya kondisi yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa disamakan antara kondisi ideal ibu si A dengan ibu si B.

#CeritaKecil #CeritaPribadi #PeranIbu #Idealis #Bahagia #TantanganMenulis30Hari #HariKe2

Rabu, 31 Maret 2021

Cerita Melahirkan Secara Alami Part 1

Assalamu'alaikum moms...
Hallo....
Ini postingan pertamaku setelah entah berapa tahun aku off nulis, dan kali ini postinganku "berbau" emak2 🤭
Oke, di postingan ini, aku mau cerita tentang proses persalinan secara alami. Semoga tulisan ini bisa memberi manfaat ya...

Perkenalkan, aku ibu dari 2 anak yang keduanya lahir dengan BB 3,9 kg.
Kata kebanyakan orang sih BB lahir segitu termasuk besar, dan aku pun nggak nyangka bisa melahirkan secara alami dengan BB bayi sebesar itu.
Emm... kira2 apa ada tipsnya? 
Nggak tau ya ini termasuk tips apa bukan, yang jelas aku mau share pengalaman aku aja tentang persalinan alami.
Dua kali menjalani kehamilan, yang aku rasakan tu berbeda. Berbeda mood nya, napsu makannya, dan pola makannya. Tapi yang jelas, dari perbedaan-perbedaan itu, aku menyimpulkan bahwa untuk bisa melahirkan secara alami kita perlu "Yakin".
1. Yakin kita bisa.
2. Yakin tubuh kita bisa.
3. Yakin bahwa janin kita bisa diajak kerja sama.
Pola makan yang sehat, asupan gizi yang seimbang, olahraga ringan, dan pendukung2 lainnya memang perlu, tapi... menurutku hal yang paling mendasar adalah dari diri kita sendiri, mindset kita, bahwa kita bisa.
Selama kehamilan, aku rutin kontrol ke bidan dan dokter. Sebenernya boleh salah satu aja. Tapi.. aku pengen mendapat masukan dari dua tenaga medis. Ini aku lakukan baik di kehamilan pertama maupun pada kehamilan kedua.
Oke. Aku cerita proses persalinan pertama dulu ya...
Pada kehamilan pertama, anakku lahir sebelum HPL (Hari Perkiraan Lahir), maju 2 minggu sebelum HPL, tepatnya di usia 39 week.
Aku ingat, waktu itu malam sekitar pukul 21.00 WIB, aku ke toilet untuk BAK. Ternyata saat itu aku menemukan tanda2 persalinan. Ada setitik bercak darah di celana dalamku. Tapi aku tidak langsung memutuskan untuk ke RS. Aku memilih tidur dulu karena belum ada kontraksi yang intens. Nah... pas pukul 12.00, aku kebangun lagi karena mules dan merasa ingin buang air kecil. Namun, saat itu justru keluar lendir merah yang lumayan cukup banyak. Akhirnya aku dan suami siaga untuk ke RS.
Singkat cerita, sesampainya di RS ternyata sudah pembukaan 4, sekitar pukul 01.00. Saat itu, aku langsung diinfus dan diinduksi.
Oke. induksi... (aku teringat cerita teman tentang induksi).
Namun, yang aku rasakan seperti mules2 haid saja, nggak seperti yang diceritain teman2 tentang induksi (mungkin tiap orang berbeda2 ya).
Proses persalinanku lumayan berjalan cepat dan lancar. Setiap 30 menit sekali, pembukaan terut bertambah. Setiap kontraksi aku selalu dzikir dan berusaha berkomunikasi dengan janinku.
Aku pun merasa dibantu sangat sangat dibantu dengan adanya support dari suamiku, yang dari awal sampai akhir setia menyemangati. Terima kasih mas...
Aku yakin bahwa tubuhku mampu menjalani persalinan ini, aku yakin bahwa janinku bisa diajak kerjasama, aku yakin bahwa Allah akan membantu proses ini. Pokoknya saat itu yang tertanam adalah keyakinan, dan dari keyakinan keyakinan itu, alhamdulillah aku bisa melewati setiap gelombang cinta (kontraksi) selama proses persalinan.
Jika moms ada yang berfikir "Oh... kondisinya normal semua, makanya bisa lahiran secara alami". "Oh.. asupan gizinya baik". "Oh.. minum vitaminnya yang mahal". Dan anggapan2 lainnya.
Maka aku jawab "NO"!
Di usia 5 bulan, Hb ku rendah (8,5) yang katanya normalnya untuk ibu hamil tu sekitar 11 atau lebih. Kemudian urin ku positif, yang artinya setiap protein yang masuk itu tidak masuk ke janin tapi keluar lagi lewat urin, dan ini bukan kondisi yang normal. Bahkan di minggu2 menjelang persalinan, dokter bilang bahwa janin ku terlilit tali pusat. Tapi dari semua itu, aku tetap yakin bisa melakukan persalinan secara alami. 

#CeritaPersalinan #Part1 #TantanganMenulis30Hari
#CeritaPribadi #HariKe1

Jumat, 18 September 2015

Review: Sociology as life or death issue, Robert J. Brym


Dalam buku ini, Robert J. Brym membahas mengenai masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan kematian individu yang bermasyarakat. Pada bab I, ia menggambarkan bagaimana kematian dipandang bagi masing-masing individu. Dalam pembahasannya, ia membedakan pandangan antara individu yang beragama dengan tidak. Individu yang beragama cenderung kurang mengkhawatirkan akan kematian, karena ia percaya adanya suatu ganjaran. Ia juga memaparkan isu kematian dengan menganalogikan seperti aturan permainan bagi anak-anak. Di mana setiap permainan memiliki cara main atau aturan mainnya masing-masing. Seperti dalam pembahasannya, setiap orang memiliki pandangan sendiri tentang kematian seperti halnya anak kecil yang sedang bermain, di mana di dalam permainannya adakalanya kita ‘mati’. Seperti dalam permainan petak umpet, siapa yang tertangkap maka ia mati. Ketika dia mati, maka dia tidak bisa mengikuti permainannya, saat itulah dia bisa istirahat. Beberapa orang yang beragama terkadang kurang mencemaskan kematian karena mereka percaya adanya ganjaran dan kehidupan yang abadi di surga. Agama membuat seseorang mematuhi perturannya, karena di dalam agama terdapat aturan-aturan yang harus dipatuhi bagi tiap pemeluknya. Misalnya, salah satu peraturan dalam suatu agama, bahwa pernikahan hanya dapat menikahi satu orang dan tidak diperkenankan adanya perceraian.
Dalam bab ini juga ia memaparkan mengenai kekhawatiran-khawatiran individu dalam menghadapi kematian, karena kematian tidak dapat diprediksikan oleh manusia. Hanya Tuhan yang mempunyai hak untuk itu. Kematian tidak dapat disangkal, sekalipun kita menginginkan kehidupan yang bahagia, tetap akan tahu bahwa kita akan mati. Kesiapsiagaan tak akan terelakan karena kita fokus bagaimana menjadi yang terbaik untuk hidup yang berarti di sisa waktu kita: macam-macam karir yang dikejar demi membuat kita bahagia, namun ada beberapa orang membutuhkan suatu jalinan persahabatan dalam masa yang panjang.
Ia juga memaparkan bahwa dengan tidak bisa diprediksinya kematian, membuat sebagian orang memilih untuk hidup lebih baik lagi. Ada suatu gambaran kehidupan yang lebih baik, mereka menghadapi ketidakpastian kematian dengan segera menginvestasikan tenaga mereka untuk menetapkan situasi dan gambaran dari harapan orang lain, dengan selalu berusaha untuk menciptakan realita sosial yang berarti (Berger dan Luckmann, 1967). Fakta lainnya, kita menciptakan sesuatu yang berarti dalam sebuah institusi. Selain itu, nilai ekonomi dan pendidikan yang semakin meluas dari tahun ke tahun. Tetapi hanya terikat bahwa perguruan tinggi dan universitas hanya untuk penempatan kerja semata.

Sosiologi
Berkaitan dengan sosiologi, Durkheim menyatakan bahwa sosiologi merupakan sarana untuk memperbaiki kesejahteraan manusia dengan pendekatan sosiologi klasik kita dapat memahami masyarakat, seperti teori suicidenya Durkheim.
Sebagian besar orang berpikir suicide atau bunuh diri merupakan gambaran aksi anti sosial. Menyederhanakan pendapatnya Durkheim ada 3 level solidaritas sosial dalam tingginya tingkat bunuh diri:
  1. Solidaritas lemah: pendapat Durkheim menyatakan bahwa karakteristik golongan dan masyarakat yang rendah level solidaritas sosialnya memiliki tingkat bunuh diri yang lebih tinggi, karena ia jarang berinteraksi, rendahnya nilai dan standar moral, hal ini menjadikan individu memiliki solidaritas rendah.
  2. Solidaritas menengah: jika menginginkan tingkat bunuh diri menurun, kita harus mempunyai sosok yang memliki ikatan kuat di masyarakat modern. Sebagai contoh, Amerika Utara yang menciptakan sistem yang berkualitas tinggi, yang dapat diakses, misalnya penitipan anak. Kemudian anak-anak akan lebih baik jika diawasi, menikmati interaksi dengan teman sebayanya dan orang dewasa, dan saling bersosialisasi. Di waktu yang bersamaan, orang dewasa lainnya (ibu tunggal) melakukan pekerjaan dan ikatan sosial baru dengan rekan kerjanya. Demikian peningkatan level solidaritas sosial, kita harap dapat menurunkan angka bunuh diri.
  3. Solidaritas tinggi: meskipun secara umum ada kemunduran di dalam solidaritas sosial, beberapa golongan mempunyai karakteristik luarbiasa pada level solidaritas yang tinggi. Ketika anggotanya terancam, mereka rela mengorbankan hidup mereka demi melindunginya. Sebagai contoh, seorang tentara yang mempunyai hubungan dekat dengan militer mungkin akan mengorbankan dirinya untuk melindungi temannya.

Teori Suicide Durkheim
Durkheim menyebutkan bahwa bunuh diri pada solidaritas tinggi dinamakan Altruistic. Berbeda dengan yang terjadi pada solidaritas rendah digambarkan menurut Durkheim sebagai Egoistic/Anomic.
-          Egoistic suicide, akibat dari kurangnya integrasi dari individu dalam masyarakat karena lemahnya ikatan sosial
-          Anomic suicide, akibat norma sebagai sesuatu yang memerintah masih samar-samar. Adanya ketidakjelasan dari suatu norma.


Senin, 27 Mei 2013

Laporan Hasil Bacaan Etnografi


Perubahan Sosial di Yogyakarta
Banyak peneliti-peneliti yang meneliti berbagai fenomena tentang kehidupan politik, sosial dan ekonomi di indonesia sebelum perang. Bahkan banyak peneliti dari luar yang tertarik untuk meneliti masalah-masalah yang ada di indonesia. Hal ini membuat banyaknya penelitian-penelitian/riset-riset yang telah dilakukan orang Barat di indonesia, sehingga dapat memperlihatkan cara pandang orang Barat terhadap penelitian yang mereka lakukan. Perbedaan-perbedaan di dalam penelitian yang dilakukan biasanya dilatarbelakangi oleh latar belakang budaya peneliti. Hal ini lah yang membedakan pemaparan dari hasil penelitian setiap orang, karena setiap orang mempunyai sudut pandangnya masing-masing terhadap suatu fenomena yang ada di dalam masyarakat.
Di dalam buku yang di tulis Selo Soemardjan ini, yang berjudul “Perubahan Sosial di Yogyakarta” dikemas dalam suatu pemaparan yang terperinci, karena penulis melakukan riset mulai bulan agustus 1958 hingga januari 1959[1] serta observasi dan wawancara, penulis juga melakukan pengumpulan data dengan meneliti berbagai dokumen resmi serta koran-koran setempat[2], sehingga data-data yang terkumpul berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan. Penulis juga terjun langsung ke lapangan dan hidup ditengah-tengah masyarakat yang menjadi objek penelitian, yaitu dengan tinggal bersama penduduk setempat untuk memperoleh data yang diharapkan penulis. Dengan seperti itu, penulis dapat mengetahui informasi-informasi terirat maupun tersurat, karena bukan hanya data-data yang diperoleh tetapi juga berdasarkan pengamatan dan sudut pandang penulis maupun informan.
Adapun teknik wawancara yang dilakukan oleh penulis di dalam tulisan ini, yaitu wawancara sambil lalu dan observasi partisipan.  Penulis juga melakukan pengelompokan di dalam wawancara yang dilakukannya, melalui dua cara yaitu perorangan dan kelompok. Perorangan dilakukan dengan mendatangi rumah-rumah ataupun perkantoran agar memperoleh pandangan informan ataupun data-data khusus yang diketahui oleh informan.[3] Penelitian secara kelompok dilakukan dengan mengumpulkan orang-orang yang berasal dari kerabat penduduk yang ditempati peneliti. Sehingga dapat dengan mudah mengumpulkan orang-orang (penduduk setempat) dengan seperti itu, maka penulis dapat dengan mudah mengelompokkan informan berdasarkan status sosialnya. Seperti halnya suatu penelitian, ketika ingin meneliti secara mendalam maka ia harus mengamati secara mendalam bahkan ikut merasakan apa yang terjadi di dalamnya. Lingkup pengamatan di bacaan tersebut mencakup ruang atau tempat, pelaku, aktivitas, benda atau alat, serta peristiwa yang terjadi.
Teknik pengamatan dengan keterlibatan peneliti didalam pengamatan yang dilakukannya, yaitu didalam kehidupan masyarakat yang ditelitinya (Participant Observation) menggambarkan bahwa peneliti mengamati secara mendalam tentang kehidupan yang ada di masyarakat Yogyakarta. Sehingga dengan begitu, penulis dapat mengetahui perubahan sosial yang terjadi di masyarakat Yogyakarta. Namun, didalam penelitiannya penulis mengalami kendala karena telah banyak masyarakat yang mengetahui identitas ia sebagai pamong praja sehingga masyarakat menilai status penulis.
Dengan melalui teknik pengamatan ini, penulis dapat dengan mudah memahami dan mempelajari gejala yang ada di masyarakat, terutama mengenai perubahan sosial yang menjadi pokok penelitian yang dilakukan penulis, karena penulis hidup ditengah-tengah masyarakat yang ditelitinya. Sehingga penulis dapat mempelajari dan memahami kebudayaan masyarakat setempat melalui kehidupan sehari-hari mereka. Dalam penelitian ini penulis (Selo Soemardjan) mencoba memahami gejala yang terjadi di masyarakat, dengan melakukan pendekatan mendalam terhadap informan serta mendengarkan informasi-informasi serta pandangan informan (emik), yang kemudian ia rangkum dan tarik kesimpulan melalui sudut pandanganya (etik). Jadi dalam metode pengamatan ini dilakukan pendeskripsian terhadap pola-pola kehidupan masyarakat sehingga dapat diketahui perubahan-perubahan sosial yang terjadi di dalamnya. Terlihat dari pemaparan penulis yang memaparkan tentang perubahan sosial dalam proses perubahan vertikal dan dalam proses perubahan horizontal.
Di dalam hasil pengamatan Selo Soemardjan tentang “Perubahan Sosial di Yogyakarta”, dia menggunakan teknik pendeskripsian secara naratif dengan mendeskripsikan setiap gejala yang ada serta menggabungkan unsur emik dan etik. Sehingga terlihat pemaparan yang terperinci. Terlihat dari pengamatannya yang selalu melihat dari sudut pandang informan dan sudut pandangnya sendiri. Sehingga adanya penggabungan unsur-unsur emik dan etik yang digunakan penulis di dalam penelitiannya. Hal ini dapat terlihat jelas dari pemaparan penulis pada saat teknik pengambilan data yang dilakukan, yaitu dengan wawancara mendalam kepada informan untuk meminta sudut pandangnya (informan) terhadap peristiwa yang terjadi.
Dalam tulisan Selo Soemardjan “Perubahan Sosial di Yogyakarta” juga menggunakan riwayat hidup dari informan yang ditelitinya. Terlihat dari penjelasan mengenai sejarah pemerintahan di keraton Yogyakarta, yang dijelaskan secara terperinci dari mulai awal pembentukan, perjanjian yang dilakukan Belanda sampai pada pergantian nama dari Pangeran Mangkubumi memakai nama Hamengkubuwono.
Gaya pembandingan yang di paparkan oleh penulis menurut pendapat saya melalui pembandingan secara terperinci. Hal ini dapat dilihat dari cara pemaparan penulis yang memaparkan dari awal masa kolonial sampai pada terjadinya perubahan-perubahan sosial di Yogyakarta. Penulis memaparkan berbagai peristiwa, mulai dari peristiwa sejarah, pola interaksi sosial, keadaan fisik, dan budaya pada masyarakat setempat. Namun, penulis juga tidak melupakan setiap pandangan-pandangan (sudut pandang) dari informan. Ini yang menjadikan penelitian yang dilakukan penulis relevan dengan situasi yang ada di masyarakat, dari awal mula (asal-muasalnya) sampai mengalami perubahan-prubahan sosial di masyarakat Yogyakarta.
Setiap penelitian yang dilakukan pasti memiliki sumber rujukan di dalamnya, baik untuk memperkuat gagasan maupun sebagai sumber argumen yang akan di paparkan di dalamnya. Dalam “Perubahan Sosial di Yogyakarta” tinjauan pustaka digunakan sebagai konsep dan landasan teori yang untuk memperkuat gagasan yang dipaparkan oleh penulis. Kemudian, juga sebagai acuan untuk memperkuat penelitian di dalam tulisan ini. Berikut beberapa tinjauan pustaka yang digunakan Selo Soemardjan, diantaranya adalah sebagai berikut;
Thomstein Veblen, The Theory of the Closs (New York: Viking Press, Inc., 1922). Tinjauan pustaka ini digunakan sebagai konsep di dalam menjelaskan perubahan sosial yang terjadi di Yogyakarta. Ini juga digunakan sebagai penunjang argumen penulis (unsur-unsur etik) di dalam penelitiannya. Tinjauan pustaka ini juga menjelaskan mengenai penyebab perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Seperti yang di kutip dalam ulasan teoritis (bagian kesimpulan), “penemuan-penemuan dan inovasi teknologis, apabila diterapkan dalam skala yang cukup besar, mungkin akan menimbulkan suatu tatanan  baru dalam kehidupan ekonomi dan dengan demikian bisa menimbulkan perubahan menuju apa yang disebut Veblen kebiasaan-kebiasaan berpikir dan bertindak”. Tidak hanya itu, penulis juga menggunakan tinjauan pustaka Robert M. Maclver dan Charles H. Page, dalam Society: An Introductory Analysis (New York: Rinehart and Company, Inc., 1949) yang dijadikan bahan acuan di dalam penelitiannya, yang di dalamnya lebih memaparkan tentang perubahan sosial, lebih tepatnya faktor-faktor perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Ini jelas sangat mendukung serta menunjang bagi penelitian yang ia lakukan. Penulis juga menggunakan konsep “Pelopor perubahan (agents of change) yang digunakan oleh peneliti lain dalam arti yang berlainan” Norman F. Washburne, dalam interpreting social Change in America (Garden City, N.Y.: Doubleday and Company, 1954). Bahwa perubahan sosial memerlukan penyesuaian kembali struktur kelembagaan lainnya.
Di dalam tulisan “Perubahan Sosial di Yogyakarta” dideskripsikan juga kepercayaan atau keyakinan tentang cerita rakyat, yang memiliki keterkaitan dengan sistem politik yang ada di masyarakat setempat. Cerita rakyat tersebut sampai sekarang masih berlangsung dan ada di masyarakat. Kepercayaan yang dianut masyarakat setempat adalah mengenai sistem pemerintahan, bahwa yang memimpin selanjutnya harus dari atau turunan asli Sultan Hamengkubuwono. Ini yang menjadi kepercayaaan masyarakat setempat. Masyarakat setempat juga mempercayai adanya kekuatan magis. Masyarakat setempat mempercayai adanya kekuatan magis pada pusaka-pusaka tertentu dalam istana Sultan (tombak, keris atau panji) yang menjadikan seorang Sultan berhak memerintah. Bahkan ada kepercayaan bahwa tanpa adanya itu semua seorang sultan tidak akan bisa memperoleh kepercayaan dan kesetiaan rakyat, sehingga dengan demikian ia tidak dapat memerintah kerajaan.
Hal tersebut disebut sebagai foklor, sebagaimana yang terdapat di dalam tulisan ini, yaitu ada suatu tradisi yang diturunkan secara turun-temurun. Kemudian hal tersebut dijadikan pedoman di dalam sistem masyarakat setempat dan memiliki nilai-nilai secara turun-temurun. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan “Pangeran Mangkubumi akan memakai nama Hamengkubuwono dan hanya keturunan sahnya yang berhak menduduki tahta kerajaan”.[4] Walaupun demikian, rakyat sangatlah patuh akan perintah-perintah yang diutarakan pemimpinnya (Sultan), sehingga Belanda memanfaatkan situasi seperti ini, yaitu memperdaya yang pada saat itu menjadi Sultan untuk menjalankan misi-misinya. Dengan menempatkan Sultan tetap pada posisinya, namun dibawah pengawasannya.  Hal ini dimaksud supaya memberi kesan kepada rakyat, bahwa mereka masih diperintah oleh raja mereka sendiri, karena pada saat itu Belanda mengetahui kepatuhan rakyat terhadap penguasanya, sehingga dapat dikatakan bahwa sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa identik dengan sejarah para penguasanya.
Sistematika di dalam buku yang di tulis oleh Selo Soemardjan mengenai “Perubahan Sosial di Yogyakarta” di tulis secara terperinci. Yaitu di awali dengan pemaparan daerah Yogyakarta itu sendiri yang dipaparkan pada bagian awal, yang terdiri dari; pembagian wilayah pemerintahan dan penduduk. Kemudian pada bagian kedua dipaparkan mengenai masa pemerintahan Yogyakarta di bawah rezim Belanda. Bagian ketiga memaparkan masa pendudukan Jepang. Bagian keempat, memeparkan Yogyakarta sejak kemerdekaan. Bagian kelima, tentang pemerintahan dan masyarakat sejak kemerdekaan. Bagian selanjutnya yaitu memaparkan tentang perubahan-perubahan sosial yang terjadi, dimulai dari pembangunan ekonomi sampai pada pendidikan yang merupakan salah satu pemicu perubahan sosial. Hal ini menjadikan sistematika di dalam buku “Perubahan Sosial di Yogyakarta” terperinci, karena penulis memaparkan dari awal pemerintahan yaitu pada masa kolonial sampai terjadinya perubahan-perubahan sosial yang terjadi di masyarakat.


[1] Hlm 6
[2] Hlm 7
[3] Hlm 8
[4] Hlm 20